Oleh Ahmad Munjin
Selasa, 3 Oktober 2006
Syahdan, Ali Syariati pernah mengatakan bahwa puasa itu dalam hal-hal tertentu merupakan kelanjutan peradaban Islam yang sangat berpengaruh di masa lalu dan menjadi tali jihad terhadap hawa nafsu diri sendiri.
Ramadhan 1427 H telah datang untuk seluruh umat Muhammad di dunia. Dengan kedatangan bulan suci ini, apakah kesalehan spiritual-individual dan sosial kita akan menjadi lebih baik atau sebaliknya?
Kalau kita melihat bagaimana cara keberagamaan umat Islam, termasuk dalam menunaikan ibadah puasa, ada beberapa macam penghayatan. Pertama, adalah orang yang berpuasa sepenuhnya. Ia berusaha memenuhi kewajiban-kewajiban dan melakukan kebajikan kebajikan sesuai tuntutan normatif agama Islam. Dia berusaha mengamalkan dimensi vertikal (hubungan dia dengan Allah) dan dimensi horizontal (hubungan dia dengan sesama manusia) sekaligus.
Kedua, orang yang bepuasa tetapi tidak masuk dalam kategori puasa dalam pengertian spiritual. Ia hanya menahan dahaga dan haus tetapi secara individual-spiritual dan sosial sangatlah kering.
Ketiga, orang Islam yang tidak puasa, tetapi secara sosial memenuhi standar normatif puasa dalam Islam. Dalam kehidupan bermasyarakat ia sangatlah baik -dermawan, melaksanakan zakat, infak, dan sedekah - tetapi ia tidak berpuasa dalam pengertian menahan lapar dan dahaga.
Keempat, orang yang berpuasa, tetapi secara sosial sangat bertolak belakang dengan ajaran puasa. Puasa yang sejatinya sebagai bentuk empati (menghadirkan penderitaan orang lain dalam diri sendiri) terhadap orang miskin, malah merampas hak-hak mereka. Ini dilakukan misalnya dengan tidak membayar zakat dan tidak peduli kondisi sosial di masyarakatnya. Padahal puasa adalah refleksi dari bagaimana orang Islam merasakan lapar dan penderitaan orang-orang miskin.
Kelima, orang Islam yang tidak berpuasa dan juga tidak melakukan kejahatan maupun kebaikan sekaligus. Bulan suci ini dihayatinya dengan biasa-biasa saja dan tanpa beban apa pun. Baginya bulan Ramadhan sama saja dengan bulan-bulan yang lainnya.
Dengan demikian, bagi kita, kesanggupan untuk sukses menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh hendaknya tidak disikapi secara berlebihan. Masalahnya, lapar kita selama sebulan penuh belum tentu dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Belum lagi, bahwa kesuksesan puasa secara spiritual hanya bisa diukur oleh Allah sendiri. Biarlah itu menjadi urusan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Kalkulasi pahala tidak bisa dihitung dengan hitungan bilangan ganjil atau genap. Yang ada adalah alegori-alegori untuk menimbangnnya. Tetapi meskipun demikian kita harus tetap optimis akan kasih sayang Allah.
Yang tak kalah penting, bagaimana puasa dijadikan ajang pembebasan baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan masyarakat di sekitar kita. Celakanya, secara positif setiap orang yang berpuasa memiliki penghayatan yang berbeda-beda. Ada yang berusaha menyesuaikan dengan apa yang dituntut secara normatif, tetapi ada yang malah sebaliknya.
Normatif puasa adalah sebagaimana digariskan dalam al-Qur'an dan al-Sunnah. Sedangkan positif puasa adalah sebagaimana tampak dalam perilaku kaum Muslimin dalam berpuasa. Jadi, dilihat dari sudut pandang ilmu sosial mengenai keberagamaan seseorang, kebalikan dari positif bukanlah negatif melainkan normatif.
Secara normatif, misalnya, puasa mengajarkan manusia untuk disiplin dan berempati terhadap orang miskin. Lebih jauh dari itu, tujuan puasa adalah bagaimana membebaskan manusia dari kemiskinan, dengan ditunaikannya zakat fitrah. Dengan ditunaikannya zakat, secara intrinsik terkandung larangan untuk korupsi, karena korupsi bertentangan dengan nilai-nilai yang melekat dalam zakat.
Tetapi secara positif, bisa saja, orang berpuasa malah tidak disiplin, misalnya dengan menurunnya produktivitas kerja. Berpuasa, tetapi dalam hubungannya dengan orang lain tidak baik: menghasud, memfitnah, iri, dengki, dan sombong. Menahan lapar tetapi tetap melakukan korupsi. Meskipun berpuasa tetap saja tidak ada pengaruhnya terhadap pembebasan umat manusia dari ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ini bisa dibuktikan dengan perilaku kaum muslimin yang menyimpang dari ajaran puasa dari mulai rakyat jelata sampai pejabat negara.
Oleh karena itu, bulan suci Ramadhan oleh kaum Muslimin harus dimaknai sebagai pembebasan. Pertama, secara sosial, puasa harus membebaskan diri sendiri. Bebas dari hawa nafsu, yang semula serakah menjadi dermawan. Bebas dari sifat korup, berubah menjadi amanah.
Kedua, puasa harus dijadikan wahana untuk membebaskan orang lain dari keseluruhan kejahatan kita. Bukan bebas untuk melakukan ketidakbaikan terhadap orang lain, melainkan membebaskan orang lain dari tindakan jahat kita. Hal ini selaras dengan Isaiah Berlin dalam esainya tentang kebebasan yang mengajarkan bahwa kita harus hati-hati dengan "bebas me" (freedom for) dan membuat orang lain "bebas dari" (freedom from). Menjadikan orang lain bebas melakukan kebaikannya dan membebaskan orang lain dari segala determinasi kita.
Ketiga, secara spiritual-individual, puasa harus dijadikan momen yang tepat untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183). Ini bisa dilakukan dengan memperbanyak membaca al-Qur'an, melaksanakan tarawih, dan seterusnya. Tetapi ketakwaan tidak hanya dapat diwujudkan dalam dimensi ritual semata. Takwa juga harus diwujudkan padal level sosial yaitu mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah sekian persen, lebih banyak lebih bagus, baik dalam keadaan lapang atau senang maupun dalam keadaan susah atau terpaksa. (Q.S. Ali Imran [3] : 134). Ini sebagaimana terkandung dalam ajaran zakat. Tapi, zakat harus dikelola dengan manajemen yang modern dan tidak didistribusikan untuk kepentingan sementara.
Keempat, sebagai konsekwensi berpuasa, tujuannya adalah untuk kesehatan. Dengan demikian, dalam melakukan sahur dan berbuka harus dilakukan secara wajar. Sahur secukupnya dan juga berbuka sesuai takarannya. Akhirnya kita sadar, puasa merupakan medium untuk menyemburatkan berbagai macam dimensi sosial yang sangat besar meskipun ibadah puasa itu sendiri bersifat ekslusif antara sang makhluk dengan Pencipta-Nya.***
Penulis adalah peneliti muda Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, Jakarta
Source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=157035
No comments:
Post a Comment