Thursday, June 14, 2007

Menyoal Kunjungan Bush


Oleh Ahmad Munjin
Suara Pembaruan
Tempo hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengingatkan agar lawatan Presiden Amerika Serikat George W Bush jangan ditafsirkan terlalu luas dan harus dimaknai sebagai kunjungan biasa. Kunjungan tersebut hanya semata-mata sebagai hubungan yang baik antara kedua negara.

Meskipun demikian, tetap saja lawatan itu dianggap oleh sebagian warga negara terutama kaum Muslim sebagai sesuatu yang bermasalah. Mengapa? Karena sebagaimana dikatakan J Galtung, seorang akademisi Barat terkemuka, Amerika merepresentasikan dirinya sebagai negara penindas dan pelaku kekerasan terhadap bangsa-bangsa yang lemah dan tak berdaya.

Oleh sebab itu, tak mengherankan jika sepekan menjelang kedatangan Bush pada 20 November 2006, kunjungan pemimpin Gedung Putih ini menuai banyak protes dan demonstrasi. Hal ini diperparah dengan ledakan bom di Restoran A&W Kramat Jati Indah Plaza, Jakarta Timur, Sabtu (11/11), yang merusak perabotan restoran tersebut dan hanya melukai pelakunya sendiri di bagian paha dengan sangat parah. Ledakan ini terjadi sembilan hari menjelang kedatangan Bush.

Kejadian-kejadian ini? protes, demonstrasi, dan ledakan bom? semakin menunjukkan dan memperkuat pola umum bahwa setiap kali Presiden Amerika Serikat George W Bush melakukan lawatan ke suatu negara Muslim, ia selalu dihadang dengan protes warga negara yang dikunjunginya.

Bagi kaum Muslim di Indonesia, meskipun secara normatif ada keharusan untuk menghormati tamu, tapi memprotes kedatangan Bush ke Indonesia memang bukan tanpa alasan. Bush sebagai pemimpin negara superpower dan kampium demokrasi dianggap telah melukai hati sebagian besar kelompok Muslim di Indonesia.

Hal-hal yang dianggap melukai kaum Muslim itu antara lain: Pertama, kaum Muslim marah terhadap Pemerintah Amerika yang telah menduduki tanah suci Islam pada era perang Teluk yang pertama tahun 1990. Kedua, marah terhadap pemerintahan Amerika yang telah melancarkan rudal ke warga sipil di Sudan, Afghanistan (jatuh di Pakistan) dan menguasai Irak. Ketiga, marah terhadap perlakuan Pemerintah Amerika dan Yahudi tentang apa yang terjadi kepada umat Islam di Palestina.

Keempat, marah dengan cara tentara Amerika memperlakukan para tahanan di penjara Guantanamo. Kelima, merasa simpati terhadap korban perang yaitu warga sipil Muslim.
Di samping itu, protes terhadap lawatan Bush ke Indonesia, juga menyangkut hubungan ekonomi Indonesia-Amerika yang selama ini ada kecenderungan bahwa kebijakan ekonomi Amerika Serikat memiliki tabiat "menghisap" ketimbang melaksanakan asas timbal balik (reciprocal) yang seimbang.

Dengan demikian, bagi kaum Muslim di Indonesia dan pemerintah, dengan adanya lawatan Bush ini harus dijadikan momentum untuk melakukan dialog mengenai persoalan-persoalan tersebut.
Alasannya: Pertama, bagi pemerintah, lawatan Bush harus dilihat sebagai kepentingan strategis Amerika dalam membangun hubungan dengan Indonesia, sebuah negara Muslim demokratis terbesar di dunia.

Kedua, kunjungan tersebut sebagai politik pencitraaan (imagology)Bush untuk konsumsi politik dalalm negeri AS pascakegagalan proyek demokratisasi di Irak dan Afghanistan. Lawatan Bush ke Jakarta jelas untuk menambal sulam kebijakan luar negerinya yang robek di Timur Tengah (Irak).

Ketiga, politik "kamuflase" untuk menutup tindak kekerasan yang di-lakukan Amerika di dunia Islam. Keempat, memperkuat hubungan bilateral dengan Indonesia berarti secara otomatis memperkokoh jangkar relasi dengan dunia Islam di Asia, menyusul kegagalannya membangun hubungan luar negerinya di Timur Tengah (kasus Hamas Palestina, invasi AS ke Irak, Hizbullah Lebanon, dan krisis nuklir Iran).

Kelima, bagi kaum Muslim Indonesia, kedatangan Bush merupakan batu ujian, apakah Muslim Indonesia yang terkenal sebagai Muslim moderat yang ramah dengan kultur ketimurannya akan tetap seperti semula sebagai orang Timur yang santun termasuk dalam merespon lawatan Bush ke Indonesia.

Rasa Hormat
Oleh sebab itu, kita berharap kedatangan Presiden George W Bush ke Indonesia dapat mempererat pola hubungan internasional kedua belah pihak dan menghadirkan rasa hormat AS terhadap Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Indonesia bukan negara bagian dari Amerika Serikat, sehingga Amerika tidak bisa mendikte negara kita dengan cara apapun. Sebagai negara berdaulat, Indonesia bisa menjadi contoh bagi "Negara Paman Sam" tersebut, khususnya dalam cara pemberantasan terorisme, yang selalu diusung AS ke berbagai forum dan pertemuan.

AS hendaknya menyadari bahwa ketika Amerika belum dapat memberantas Osama Bin Laden, Indonesia telah menuntaskan kasus Azahari, buronan nomor satu di negeri ini. AS harus pula menyadari bahwa konsep pemberantasan terorisme di Indonesia tetap berbasis pada penegakan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Dalam hal ini lawatan Bush ke Indonesia jangan sampai justru menyalakan kembali aksi pengeboman di sana-sini hanya karena Pemerintah Indonesia menerima kehadirannya sebagai tamu negara.

Penulis adalah peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina

No comments: