Oleh: Ahmad Munjin
Dalam hitungan hari setelah gencatan senjata antara Israel (Yahudi) dan Hizbullah (Islam Syiah) dicapai, milisi Syiah yang berbasis di Lebanon Selatan segera berikrar untuk membantu pembangunan kembali masyarakat Lebanon yang rumahnya dihancurkan peluru-peluru Israel.
Ikrar itu membuat Hizbullah didaulat oleh rakyat Lebanon sebagai pahlawan perang. Tidak hanya karena roket-roket Katusyanya yang mampu memerahkan langit Israel, tetapi juga meluluhlantakan beberapa helikopter Apache kebanggaan Israel, yang diimpor dari AS, ratusan tank Mirkaya yang menyusup ke bumi Lebanon, kapal-kapal perang yang diparkir di laut, menewaskan 150 tentara Zionis dan melukai ratusan lainnya, serta memorak-porandakan beberapa wilayah di Israel Utara yang dekat dengan perbatasan Lebanon.
Sementara itu, di Israel telah terjadi kekecewaan dan kemarahan yang luar biasa di kalangan tentara cadangan Israel dan keluarganya. Kekecewaan dan kemarahan itu sangat beralasan, karena menurut mereka PM Israel adalah sebagai seorang pecundang. Olmert dinilai tidak mampu bersikap tegas untuk menumpas pasukan Hizbullah, menghancurkan kepemimpinan dan menghentikan serangan roket mereka.
Untuk menimbang mengapa Hizbullah didaulat sebagai pahlawan oleh rakyat Lebanon di satu pihak dan di lain pihak kekecewaan tentara cadangan Israel dan keluarganya terhadap Olmert, tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang 'netral' (ruang hampa), melainkan sangat 'ideologis' dan berkelindan dengan apa yang disebut sebagai 'fundamentalisme agama.'
Hizbullah adalah derivasi dari milisi Syiah yang menurut Ian Adams dalam bukunya Political Ideology Today (1993: 438) mensinyalir bahwa Syiah memiliki karakteristik, di antaranya pengorbanan diri dan berpegang teguh pada prinsip. Syiah cenderung lebih puritan, lebih fundamentalis dan lebih memilih mati syahid, perang suci, penggabungan agama dan negara dibandingkan dengan sekte Islam yang lain-sebut saja Islam Suni yang cenderung lebih pragmatis.
Mati syahid
Bagi milisi Syiah, berperang melawan Israel adalah jihad dan kalau mati dalam peperangan itu diyakini sebagai mati syahid dan surga sebagai ganjarannya. Wajar saja, Hizbullah memilih perang dengan Israel menyusul serangkaian agresi militer Israel atas Palestina, karena memang secara ideologis kedua belah pihak (Palestina-Lebanon) terunifikasi.
Ian Adams (1993: 146) mengemukakan bahwa sumber konflik yang paling besar di wilayah ini bukan antar negara Islam, tetapi antara Arab dan Israel. Semua orang Arab percaya bahwa negara Israel dibentuk di atas tanah bangsa Arab, yakni orang Palestina. Di samping itu, semua muslim percaya bahwa persoalan Palestina adalah persoalan seluruh dunia Islam, karena Jerussalem adalah tempat paling suci ketiga bagi umat Muslim setelah Mekkah dan Madinah.
Sayangnya, Ian Adams menganggap bahwa fudamentalisme Yahudi kurang memiliki dampak jika dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam Islam. Padahal sekarang, serangkaian agresi Israel terhadap Palestina dan Lebanon adalah bukti nyata dari fundamentalisme yang bukan hanya persoalan agama-bahwa orang Yahudi terlahir sebagai umat terpilih--tetapi juga menyangkut politik (sovereignty)-bahwa tanah Israel adalah tanah yang dijanjikan sebagaimana terjadi di dunia Islam.
Apa yang diungkapkan Ian Adams di atas pararel dengan apa yang diramalkan oleh Fareed Zakaria dalam bukunya The Future of Freedom (2003: 120) dan juga pernah dikhawatirkan oleh Presiden Mesir Husni Mubarak, di Mesir dan merupakan kecemasan Yaser Arafat di Palestina sebelum meninggal, bahwa kalau mereka bersikap lunak maka kaum fundamentalis akan berkuasa.
Fareed Zakaria menyebutkan bahwa mereka (Husni Mubarak dan Yaser Arafat) mungkin benar. Para penguasa Arab di Timur Tengah bersifat otokratis, korup, dan bertangan besi. Tetapi, mereka masih lebih liberal, toleran dan pluralistik daripada siapa yang mungkin akan menggantikan mereka. Dalam hal ini, Fareed menganggapnya sebagai bagian terburuk.
Kekhawatiran itu sekarang sudah menjadi kenyataan dan menjelma menjadi sebuah perang yang mengerikan. Bukan hanya meluluhlantakan benda-benda mati seperti bangunan dan infrastruktur lainnya, tetapi juga telah membunuh makhluk hidup (manusia). Lagi-lagi, perempuan dan anak-anak tidak lepas dari sasaran kejahatan perang.
Figur Ahmadinejad
Kemenangan Partai Hamas dalam pemilu dan menduduki kursi di pemerintahan Palestina dan meningkatnya pengaruh Hizbullah di Lebanon, setelah sebelumnya Abdullah Ahmadinejad di Iran dilantik pada 5 Agustus 2005 sebagai presiden, adalah bukti kemenangan fundamentalisme.
Ahmadinejad, sebagai pengikut garis Khomeini yang menentang Syah Reza Pahlevi karena menjadikan Iran sebagai boneka AS di Teluk. Ahmadinejad ikut juga terlibat dalam gerakan mahasiswa yang mengepung dan menyandera para diplomat AS di Iran, karena dia sadar kedutaan AS di Iran dijadikan markas CIA di Teluk. Hanya saja di Iran berbeda dengan Palestina di mana konflik Israel-Palestina seperti bara dalam sekam.
Tentu saja Israel dan AS kebakaran jenggot. Israel ingin membuktikan kekuatan militernya terhadap milisi Hamas di Palestina dan Hizbullah di Lebanon.
Pada hemat penulis, kebijakan baru Israel dan AS bukan hanya karena kegagalan Olmert menumpas Hizbullah, tetapi juga karena penyerangannya itu sendiri terhadap Lebanon merupakan sesuatu yang keliru. Letak kekeliruannya adalah bahwa Israel yang didukung AS telah melawan teror dengan teror yang pada puncaknya berubah menjadi perang dilawan perang.
Jadi, apa yang dilakukan Israel dan AS sekarang ini sama fundamentalisnya dengan Hamas dan Hizbullah. Sungguh ironis, negara adidaya seperti AS yang mengklaim sebagai 'kiblat' demokrasi di hampir seluruh negara yang menganut sistem ini melakukan hal-hal yang 180 derajat bertolak belakang dengan apa yang mereka gembar-gemborkan selama ini.
Yang terjadi malah sebaliknya, yaitu kekerasan dilawan dengan kekerasan, teror dilawan dengan teror, bukan melalui cara-cara damai dan dialogis. Jelas ini sangat diakronis dengan pilar demokrasi. Padahal demokrasi mengajarkan bahwa kekerasan harus dilawan dengan pikiran dan cara-cara damai bukan dengan perang.
PBB harus memperlihatkan sikapnya dengan tegas terhadap negara-negara yang memegang hak veto seperti AS. PBB harus lebih menegaskan diri dalam setiap peristiwa dunia yang terasa tidak adil. Mahkamah Internasional harus mengadili seadil-adilnya terhadap pihak-pihak yang bertikai baik Israel, Palestina, dan Lebanon.
URL Source: http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL
Ahmad Munjin Mahasiswa Program Studi Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah
Wednesday, June 20, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment